Aksi Nyalakan 1000 Lilin Mahasiswa NTB di Tangsel, Minta Penghina Gubernur TGB Segera Ditangkap

TangselMedia – Puluhan mahasiswa Nusa Tenggara Barat (NTB) di Pamulang, Tangerang Selatan yang tergabung dalam Lingkar Studi Mahasiswa (Lisma NTB) menggelar aksi menyalakan 1000 lilin.

Aksi yang tersebut dilaksanakan di Sekretariat Lisma NTB, Jalan Waru 1 No. 94 Pamulang Barat, Pamulang, Tangerang Selatan pada Ahad 16 April 2017. Aksi ini sebagai bentuk kecaman atas penghinaan kepada Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi oleh salah seorang WNI keturunan China bernama Steven Hadisurya Sulistyo (SHS) dengan kata-kata yang sangat kasar dan menjijikan.

Aksi nyalakan 1000 lilin Lisma NTB di Pamulang. (sumber foto: TangselMedia)

“Tuntutan kami adalah: pertama, meminta kepada Polri untuk menangkap penghina Gubernur NTB. Kedua, hentikan tindakan menghina siapapun atas nama Ras, Suku dan Agama, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia”, ujar Indra Saputra Al Sangaji, Ketua Umum Lisma NTB pada TangselMedia.

Lisma NTB juga meminta kepada pihak Kepolisian untuk segera menindaklanjuti kasus ini dan segera menangkap Steven.

“Jika kita berpedoman pada Konstitusi Negara Steven Bisa dikenakan Pasal KUHP 315. Cuma karena adanya perubahan terhadap UU No. 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis, maka sudah kewajiban Polri untuk menindaklanjuti dan memanggil Steven, karena ini bukan delik aduan yang mengharuskan adanya laporan. Namun, jika Polri tidak bertindak, kami akan laporkan kasus ini ke Bareskrim Polri besok”, pungkas Indra.

Seperti ramai diberitakan, pada Minggu 9 April 2017, Sekitar pukul 14:30 waktu setempat, Gubernur NTB Dr. Muhammad Zainul Majdi yang hafizh 30 Juz Al-qur’an atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) bersama istri menuju Counter Batik Air di Bandara Changi Singapore dan ikut mengantri bersama penumpang lainnya dengan tujuan Jakarta.

Mahasiswa menuntut Steven segera ditangkap. (sumber foto: TangselMedia)

Beberapa saat mengantri, untuk keperluan menanyakan jadwal penerbangan TGB keluar antrian menemui petugas, sementara istri beliau Hj. Erica Zainul Majdi tetap dalam antrian. Selesai dengan petugas TGB kembali ke barisan antrian bersama istri beliau. Namun, Tiba-tiba ada seorang pemuda warga keturunan China (SHS) marah-marah dengan mengatakan kata-kata kasar, “dasar Indo, dasar Indonesia, dasar pribumi tiko” kepada TGB, karena mengira TGB telah menyerobot antrian.

‘Tiko’ ternyata memiliki banyak arti yang sangat menjijikan seperti: tikus kota, babi hitam, budak. Sebutan tiko adalah penginaan terhadap pribumi yang digunakan oleh etnis China. Tiko adalah gelaran untuk pribumi indon. Gelaran ini hanya untuk menghina orang pribumi. (HJD)

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply