Sudah Tinggal di BSD, Kerja di Startup, Tapi Setiap Pulang Kampung Tetap Ditanya: “Kapan Jadi PNS?”

Redaksi

0 Comment

Link

Ada satu hal yang sering tidak diajarkan di kampus mana pun: bagaimana menjelaskan pekerjaanmu kepada keluarga besar saat pulang kampung.

Terutama jika kamu bekerja di startup.

Masalahnya sederhana. Bagi sebagian orang tua di kampung, jenis pekerjaan itu hanya ada beberapa: PNS, guru, polisi, dokter, atau pegawai bank. Di luar itu, semuanya terasa seperti kategori yang mencurigakan.

“Startup itu apa?”

Pertanyaan itu biasanya datang dengan nada yang sama seperti ketika orang bertanya tentang bisnis yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan.

Itulah yang dialami Dimas (29), seorang pekerja startup yang sudah hampir lima tahun tinggal di kawasan BSD, Tangerang Selatan.

Secara objektif, hidup Dimas sebenarnya baik-baik saja.

Ia bekerja sebagai product designer di sebuah perusahaan teknologi. Gajinya cukup untuk hidup di kota satelit seperti Tangerang Selatan. Ia bisa menyewa apartemen kecil, membayar kebutuhan sehari-hari, dan sesekali nongkrong di kafe.

Kalau dilihat dari Instagram, hidupnya bahkan terlihat cukup mapan. Namun semua pencapaian itu seperti mendadak kehilangan nilainya ketika ia pulang ke kampung halaman.

Pertanyaan yang Tidak Pernah Absen

Setiap kali ada acara keluarga, Dimas selalu tahu satu pertanyaan yang hampir pasti muncul. Biasanya dimulai dari percakapan ringan.

“Sekarang kerja di mana, Mas?”

“Di perusahaan teknologi,” jawab Dimas.

Orang yang bertanya biasanya mengangguk pelan. Lalu beberapa detik kemudian muncul pertanyaan berikutnya yang entah kenapa selalu terasa lebih penting.

“Bukan PNS?”

Dimas sudah terlalu sering mengalami momen ini. Ia bahkan sudah hafal ekspresi yang akan muncul setelah jawabannya keluar.

Jika ia mengatakan bukan, biasanya akan ada jeda kecil. Seolah-olah orang yang bertanya sedang memproses sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi.

“Sayang ya. Kuliah jauh-jauh tapi belum jadi pegawai negeri.”

Kadang komentar itu diucapkan dengan nada kasihan. Kadang dengan nada nasihat. Kadang juga dengan nada yang sulit dijelaskan, seperti seseorang yang merasa perlu mengingatkan bahwa hidup orang lain belum sepenuhnya benar.

Standar Sukses yang Tidak Berubah

Bagi banyak keluarga Indonesia, ukuran sukses sering kali cukup sederhana. Kerja tetap. Gaji stabil. Lebih bagus lagi kalau jadi pegawai negeri.

Status PNS memiliki reputasi yang hampir mitologis di banyak daerah. Ia identik dengan keamanan, kepastian, dan masa depan yang dianggap jelas.

Masalahnya, dunia kerja sekarang tidak lagi sesederhana itu. Banyak pekerjaan baru yang bahkan tidak pernah ada dua puluh tahun lalu.

Product designer, data analyst, UI/UX researcher, social media strategist—semua pekerjaan ini mungkin terdengar biasa bagi orang yang tinggal di kota seperti Tangerang Selatan.

Namun bagi sebagian orang tua di desa, profesi tersebut terdengar seperti istilah asing yang terlalu rumit untuk dipahami.

Akibatnya, pekerjaan-pekerjaan ini sering dianggap kurang jelas. Tidak ada seragam. Tidak ada kantor pemerintah. Tidak ada status pegawai negeri. Jadi wajar saja jika muncul pertanyaan klasik itu.

“Kapan jadi PNS?”

Hidup di Kota yang Terlihat Mapan

Jika dilihat dari luar, kehidupan Dimas di BSD sebenarnya cukup nyaman.

Kawasan BSD sering digambarkan sebagai salah satu area paling berkembang di Tangerang Selatan. Jalanan lebar, kafe banyak, coworking space di mana-mana.

Bagi banyak orang muda yang bekerja di bidang teknologi atau kreatif, tempat seperti ini terasa ideal. Namun hidup di kota seperti BSD juga punya realitasnya sendiri.

Biaya hidup tidak murah. Sewa apartemen bisa menghabiskan sebagian besar gaji. Harga makanan di kafe sering kali membuat orang harus berpikir dua kali sebelum memesan menu tambahan.

Belum lagi tekanan kerja di dunia startup yang terkenal cepat dan kompetitif. Tapi semua itu jarang terlihat oleh keluarga di kampung.

Yang mereka lihat hanya foto-foto di Instagram. Laptop di meja kafe. Kopi latte. Interior coworking space yang estetik.

Dari jauh, hidup seperti itu terlihat seperti kehidupan orang sukses. Namun anehnya, status sukses itu tetap bisa dipertanyakan hanya dengan satu kalimat sederhana.

“Bukan PNS?”

Percakapan yang Selalu Sama

Dimas sebenarnya tidak pernah benar-benar marah dengan pertanyaan itu. Ia tahu keluarganya tidak bermaksud meremehkan.

Bagi mereka, pertanyaan tersebut hanyalah bentuk kepedulian. Namun tetap saja, ada rasa lelah ketika percakapan yang sama terus berulang.

Beberapa tahun lalu, ia pernah mencoba menjelaskan pekerjaannya dengan detail.

Ia bercerita tentang desain produk digital, tentang aplikasi yang digunakan ribuan orang, tentang bagaimana timnya bekerja mengembangkan fitur baru.

Penjelasan itu biasanya berakhir dengan satu respons yang cukup jujur.

“Oh… komputer ya.”

Dimas akhirnya menyerah. Sekarang ia hanya menjawab singkat.

“Kerja di perusahaan teknologi.”

Kalau percakapan berlanjut ke pertanyaan tentang PNS, ia biasanya hanya tertawa.

“Belum.”

Tekanan yang Tidak Terlihat

Cerita seperti Dimas sebenarnya cukup umum di kalangan anak muda yang bekerja di kota besar. Banyak dari mereka hidup di dua dunia yang berbeda.

Di kota, mereka berada di lingkungan yang menghargai kreativitas, fleksibilitas, dan profesi baru. Namun ketika pulang ke kampung, mereka kembali ke dunia dengan standar sukses yang berbeda.

Di sana, keamanan sering lebih dihargai daripada eksplorasi. Stabilitas lebih penting daripada eksperimen.

Dan status PNS masih menjadi simbol keberhasilan yang sulit digantikan. Perbedaan perspektif ini sering menciptakan tekanan yang tidak terlihat.

Bukan tekanan ekonomi atau pekerjaan, tetapi tekanan sosial yang lebih halus. Tekanan untuk memenuhi ekspektasi yang bahkan tidak pernah benar-benar kita pilih.

Belajar Berdamai

Seiring waktu, Dimas mulai melihat situasi ini dengan cara yang lebih santai. Ia menyadari bahwa standar sukses setiap generasi memang berbeda.

Bagi orang tua atau keluarga di desa, menjadi PNS adalah puncak keamanan hidup.

Bagi generasi yang tumbuh di era digital, sukses bisa berarti banyak hal: membangun produk, bekerja kreatif, atau sekadar memiliki kebebasan mengatur hidup sendiri.

Tidak ada yang sepenuhnya salah. Hanya saja, keduanya sering berbicara dengan bahasa yang berbeda. Sekarang, setiap kali ada yang bertanya tentang status PNS, Dimas tidak lagi merasa perlu menjelaskan terlalu panjang.

Ia hanya tersenyum. Kadang ia menjawab dengan bercanda.

“Belum, Om. Masih latihan jadi warga negara biasa dulu.”

Biasanya orang-orang akan tertawa.

Percakapan pun berlanjut ke topik lain: makanan, keluarga, atau cerita tetangga. Dan untuk sementara, pertanyaan tentang PNS bisa berhenti.

Setidaknya sampai mudik berikutnya.

Share:

Related Post