TangselMedia — Pilihan sekolah untuk remaja tidak selalu berakhir pada sekolah formal dengan pola belajar yang sama untuk seluruh siswa. Di tengah berkembangnya pendidikan alternatif di kawasan perkotaan, Flexi School Bintaro menawarkan salah satu model yang mencoba menggabungkan pendidikan kesetaraan, pendampingan personal, proyek berbasis minat, dan pembelajaran yang lebih adaptif.
Flexi School berdiri di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada 2021. Secara kelembagaan, Flexi bukan sekolah formal, melainkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan. Data satuan pendidikan Kemendikdasmen mencatat PKBM Flexi School dengan NPSN P9997849, berbentuk PKBM swasta, berada di bawah Yayasan Mandiri Edu Kreasi, dan menyelenggarakan Paket A, Paket B, serta Paket C. Data yang sama mencatat SK pendirian tertanggal 24 November 2021 dan akreditasi B dari BAN PDM (No. 00543/280000/PKBM/2023).
Di masyarakat, Flexi School menggunakan nama tersebut untuk menyebut keseluruhan ekosistem pendidikan yang mereka jalankan. Sementara dalam dokumen pemerintahan, nama satuan pendidikannya tercatat sebagai PKBM Flexi School.
Berawal dari pengalaman sebuah keluarga
Menurut penuturan pendirinya, Juni Handoko dan Ratih Wulandari Nurullita, gagasan mendirikan Flexi berawal dari pengalaman mereka sebagai orang tua.
Pada 2021, putra pertama mereka yang saat itu duduk di kelas 8 SMP mempertanyakan manfaat sekolah dan merasa banyak waktunya digunakan untuk mempelajari hal-hal yang tidak menjadi minatnya. Keluarga tersebut kemudian mencari alternatif pendidikan yang tetap memiliki struktur, tetapi memberikan ruang lebih besar bagi eksplorasi minat anak.
Mereka mempertimbangkan homeschooling, tetapi menilai model tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan yang mereka cari. Dari proses pencarian tersebut kemudian muncul gagasan untuk membangun lembaga pendidikan sendiri.
Kisah tersebut menjadi bagian penting dari identitas Flexi hingga sekarang. Sekolah menyebut dirinya lahir bukan dari sebuah kajian pasar, melainkan dari persoalan pendidikan yang dialami langsung oleh keluarga pendirinya.
Pada tahap awal, pengembangan kurikulum dilakukan bersama Diana Rahma, M.Psi., dan Adriano Rusfi. Flexi kemudian mengembangkan pendekatan yang mereka sebut EduAgility serta Kurikulum Aqil Baligh.
Bukan homeschooling murni
Salah satu hal yang masih sering menimbulkan pertanyaan adalah posisi Flexi School terhadap homeschooling.
Flexi memang menyediakan program homeschooling, tetapi secara kelembagaan bukan homeschooling murni. Status resminya adalah PKBM dengan program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C. Dengan demikian, siswa dapat mengikuti pendidikan melalui beberapa bentuk layanan yang disediakan lembaga tersebut. Data resmi pemerintah mencatat ketiga program kesetaraan tersebut sebagai layanan PKBM Flexi School.
Di dalam sistem yang dikembangkan Flexi, terdapat beberapa pilihan program dengan tingkat pendampingan berbeda. Program tatap muka memberikan pendampingan lebih intensif, sedangkan program lainnya memberikan ruang belajar yang lebih mandiri atau dilakukan secara daring dan hybrid.
Sekolah menyatakan bahwa perbedaan program tersebut bukan dimaksudkan sebagai tingkatan kualitas, melainkan sebagai pilihan berdasarkan kebutuhan dan tingkat kemandirian siswa.
Model ini membuat Flexi berada di antara beberapa kategori yang selama ini sering dipisahkan masyarakat: sekolah alternatif, pendidikan kesetaraan, dan homeschooling.
EduAgility dan pembelajaran berbasis proyek

Pendekatan yang menjadi salah satu ciri Flexi adalah EduAgility, yang oleh pihak sekolah dijelaskan sebagai adaptasi prinsip agile ke dalam proses pendidikan.
Konsep tersebut tidak diposisikan sebagai pengganti kurikulum nasional. Flexi tetap menyelenggarakan pendidikan kesetaraan sesuai ketentuan yang berlaku, sementara pendekatan belajarnya digunakan untuk mengatur bagaimana siswa menjalani proses belajar.
Dalam praktik yang dijelaskan sekolah, siswa tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan materi akademik, tetapi juga mengembangkan proyek berdasarkan minat, mendapatkan pendampingan fasilitator, menyusun rencana belajar personal, dan menunjukkan hasil pekerjaannya.
Untuk program tertentu, proyek tersebut kemudian dipresentasikan dalam kegiatan eksibisi. Dengan demikian, hasil belajar tidak hanya dilihat dari jawaban ujian, tetapi juga dari proses mengerjakan sesuatu sampai menghasilkan karya yang dapat dijelaskan oleh siswa sendiri.
Konsep Agile Education sendiri belum merupakan metodologi pendidikan yang memiliki status baku dan universal seperti Montessori atau Waldorf. Karena itu, penggunaan istilah tersebut dalam konteks Flexi lebih tepat dipahami sebagai pendekatan yang dikembangkan dan diadaptasi oleh lembaga tersebut.
Flexi sendiri sebelumnya pernah diberitakan TangselMedia pada 2022 terkait penerapan Agile Education dan Kurikulum Aqil Baligh.
Kurikulum Aqil Baligh
Selain EduAgility, Flexi menggunakan istilah Kurikulum Aqil Baligh untuk menggambarkan kerangka pertumbuhan karakter yang mereka kembangkan.
Menurut penjelasan pihak sekolah, kerangka tersebut melihat perkembangan siswa melalui tiga dimensi, yaitu spiritual, cerdas, dan dewasa. Pendekatan ini dikembangkan bersama konsultan kurikulum yang terlibat sejak awal berdirinya Flexi.
Dalam penerapannya, aspek akademik tetap menjadi bagian dari pembelajaran. Namun, sekolah juga memberikan porsi untuk proyek minat, keterampilan hidup, pengembangan diri, pengalaman dunia nyata, serta refleksi.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Flexi tidak ingin mendefinisikan keberhasilan siswa hanya berdasarkan nilai akademik.
Pada saat yang sama, klaim mengenai efektivitas pendekatan tersebut perlu dibedakan dari deskripsi mengenai sistem yang digunakan. Keberadaan suatu metode di sebuah sekolah tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa metode tersebut lebih efektif dibandingkan model pendidikan lain.
Dari minat menjadi pengalaman belajar
Salah satu karakter yang paling terlihat dari model Flexi adalah upaya menghubungkan minat siswa dengan pengalaman nyata.
Di dalam program yang dijelaskan sekolah, siswa dapat mengembangkan proyek yang berkaitan dengan bidang yang mereka sukai. Bentuknya dapat beragam, mulai dari teknologi, bisnis, seni, hingga keterampilan praktis.
Pada beberapa program, siswa juga mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan dunia kerja dan pengalaman langsung. Sekolah menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari upaya memberikan pengalaman belajar yang tidak berhenti pada ruang kelas.
Bagi sekolah dengan jumlah siswa relatif kecil, pendekatan semacam ini memungkinkan pendamping mengenali perkembangan siswa secara lebih individual. Namun, pendekatan tersebut juga memiliki konsekuensi: kualitasnya sangat bergantung pada kemampuan fasilitator, desain proyek, konsistensi pendampingan, dan kemampuan siswa mengelola tanggung jawab belajarnya sendiri.
Karena itu, pendidikan yang lebih personal tidak otomatis berarti lebih mudah. Justru siswa dituntut semakin mampu memahami dirinya, mengambil keputusan, menyelesaikan pekerjaan, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Cerita siswa dan batas antara klaim dan verifikasi
Sejumlah kisah keberhasilan siswa menjadi bagian dari komunikasi Flexi School.
Salah satunya adalah kisah siswa yang sejak remaja mendalami bidang teknologi dan kemudian memperoleh sertifikasi Certified Ethical Hacker (CEH) dari EC-Council. Untuk klaim ini, redaksi telah melihat salinan sertifikat dengan nomor sertifikasi ECC8205931**** yang diterbitkan pada 15 Januari 2022 — dokumen ini diperlihatkan langsung oleh pihak keluarga, meski redaksi belum melakukan cross-check independen atas nomor tersebut melalui portal verifikasi resmi EC-Council.
Pihak sekolah juga menyebut ada siswa lain di Flexi — berbeda dari pemegang sertifikat CEH di atas — yang meraih sertifikasi N2 dalam uji kemampuan bahasa Jepang (JLPT) saat masih duduk di kelas 11. N2 sendiri, menurut sejumlah sumber panduan studi ke Jepang, umumnya menjadi syarat minimal untuk program berbahasa Jepang di universitas Jepang — sehingga jika benar diraih pada kelas 11, ini pencapaian yang relatif dini. Meski begitu, berbeda dari klaim CEH, redaksi belum memperoleh atau melihat langsung dokumen sertifikat untuk klaim N2 ini, sehingga statusnya tetap sebagai keterangan keluarga yang belum didokumentasikan redaksi.
Sekolah juga menceritakan sejumlah lulusan yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri, termasuk klaim penerimaan di sejumlah PTN dan kampus di Turki, meski redaksi belum memperoleh dokumen pendukung untuk klaim-klaim tersebut.

Satu klaim prestasi yang berhasil dikonfirmasi redaksi secara independen adalah milik Nasywa Zetira Rambe, yang menurut situs resmi Flexi School tercatat sebagai siswa kelas XI mereka. Sejumlah media olahraga nasional — di antaranya kumparan.com, Espos.id, dan Katakini.com — secara independen memberitakan Nasywa sebagai pemain Tim Nasional Sepak Bola Putri Indonesia jenjang U-16, U-18, dan U-20, dengan debut di Timnas senior pada laga kontra Belanda, 25 Oktober 2024. Ia juga tercatat dipanggil untuk skuad Piala AFF Putri U-19 2025 dan FIFA Matchday, serta sempat membela kontingen PON DKI Jakarta pada PON XXI Aceh-Sumut 2024. Berbeda dari sebagian besar klaim prestasi lain dalam artikel ini, prestasi Nasywa dapat diverifikasi lewat sumber sepenuhnya independen dari Flexi School, karena pemberitaannya berasal dari konteks olahraga nasional yang tidak terkait dengan sekolah.
Cerita-cerita tersebut menarik untuk melihat kemungkinan hasil dari model pendidikan yang memberikan ruang besar kepada minat siswa. Namun, cerita individual tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan keberhasilan seluruh sistem.
Redaksi juga tidak menggunakan klaim prestasi individual sebagai data agregat keberhasilan sekolah. Untuk menilai efektivitas sebuah model pendidikan secara lebih kuat diperlukan data yang lebih luas, misalnya jumlah lulusan, keberlanjutan pendidikan, capaian akademik, perkembangan kompetensi, serta data pembanding dengan kelompok siswa yang mengikuti model pendidikan berbeda.
Pembedaan antara cerita siswa dan bukti agregat penting dilakukan agar pemberitaan mengenai sekolah alternatif tidak berubah menjadi materi promosi.
Posisi Flexi dalam pendidikan alternatif di Tangerang Selatan
Flexi School bukan satu-satunya pilihan pendidikan alternatif di kawasan Tangerang Selatan. Namun, model yang dikembangkannya memiliki kombinasi yang cukup spesifik: status PKBM, pendidikan kesetaraan, program homeschooling, pembelajaran personal, proyek berbasis minat, serta pendekatan EduAgility dan Kurikulum Aqil Baligh.
Kombinasi tersebut juga menjelaskan mengapa Flexi sulit ditempatkan hanya dalam satu kategori.
Jika dilihat dari bentuk kelembagaannya, Flexi adalah PKBM. Jika dilihat dari pilihan layanan, terdapat homeschooling. Jika dilihat dari pendekatan pembelajaran, sekolah menekankan personalisasi, proyek, dan pengalaman langsung.
Identitas tersebut merupakan hasil dari perjalanan Flexi sejak didirikan pada 2021, bukan sekadar strategi penamaan baru.
Lima tahun pertama dan tantangan berikutnya
Memasuki tahun kelima sejak berdiri, Flexi masih berada dalam fase perkembangan. Sekolah telah memiliki status kelembagaan yang tercatat secara resmi dan akreditasi B, tetapi tantangan pendidikan alternatif tidak berhenti pada legalitas.
Tantangan berikutnya justru terletak pada konsistensi kualitas.
Model pendidikan yang sangat personal membutuhkan fasilitator yang mampu memahami karakter dan kebutuhan siswa. Sistem proyek membutuhkan perencanaan dan evaluasi yang baik. Sementara kebebasan memilih jalur belajar membutuhkan tingkat kedewasaan tertentu dari siswa dan dukungan orang tua.
Flexi sendiri menyatakan bahwa sistem pendidikannya masih terus dikembangkan dan dievaluasi.
Bagi orang tua, pertanyaan yang lebih penting mungkin bukan apakah model seperti Flexi lebih baik daripada sekolah konvensional, melainkan apakah pendekatan tersebut sesuai dengan kebutuhan anak tertentu.
Pada akhirnya, pendidikan alternatif bukan perlombaan untuk mencari satu model yang berlaku bagi semua anak. Tantangannya adalah menyediakan cukup banyak pilihan agar keluarga dapat menemukan lingkungan belajar yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan arah perkembangan anak.
Artikel ini disusun berdasarkan data satuan pendidikan Kemendikdasmen, informasi yang disampaikan Flexi School, serta pemberitaan yang telah diterbitkan sebelumnya. Informasi mengenai sistem dan pendekatan pendidikan yang berasal dari pihak sekolah diperlakukan sebagai keterangan lembaga, bukan sebagai kesimpulan independen mengenai efektivitasnya.
Menemukan kekeliruan atau punya informasi tambahan? Hubungi [email protected].






