
Oleh : Marsya Zaskia Putri*
Pernahkah Anda melihat teman yang sepertinya “santai-santai saja”, sering terlihat di kantin, tapi nilai ujiannya selalu gemilang? Sementara itu, di sisi lain, ada mahasiswa yang sudah mengurung diri dan begadang tiap malam di perpustakaan, namun hasilnya justru pas-pasan atau bahkan mengecewakan. Fenomena ini seringkali membuat kita bertanya-tanya: apakah kecerdasan itu murni bawaan lahir, atau ada yang salah dengan cara kita memproses informasi?
Jawabannya ternyata bukan sekadar soal seberapa lama kita mampu menahan kantuk di depan buku, melainkan tentang sebuah sistem yang kita sebut sebagai Pola Belajar.
Lebih dari Sekadar Membaca: Melawan Mitos “Sistem Kebut Semalam”
Bagi mayoritas mahasiswa, belajar seringkali disalahartikan sebagai kegiatan pasif, seperti membaca ulang catatan berkali-kali (re-reading) atau sekadar menandai buku teks dengan stabilo warna-warni. Padahal, berbagai riset terbaru dalam psikologi pendidikan menunjukkan bahwa pola belajar pasif seperti ini memiliki tingkat retensi informasi yang sangat rendah. Otak kita cenderung “tertidur” ketika hanya menerima input tanpa melakukan pengolahan kembali.
Pola belajar yang efektif seharusnya melibatkan keterlibatan aktif, manajemen waktu yang presisi, dan yang paling penting adalah regulasi diri (self-regulated learning). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Situmorang (2021), terdapat korelasi yang sangat kuat antara kemandirian belajar dengan konsistensi hasil akademik. Mahasiswa yang memiliki regulasi diri yang baik mampu memetakan kebutuhan belajarnya: mereka tahu kapan harus memacu kecepatan, kapan harus mendalami konsep yang sulit, dan kapan harus memberikan jeda istirahat bagi otak. Akibatnya, mereka memiliki indeks prestasi yang lebih stabil dibandingkan mereka yang mengandalkan adrenalin lewat Sistem Kebut Semalam (SKS).
“Deep Work” vs “Distracted Work”: Pertarungan di Era Digital
Kita hidup di era di mana perhatian adalah komoditas yang mahal. Tantangan terbesar mahasiswa hari ini bukanlah kurangnya sumber informasi, melainkan melimpahnya distraksi. Pola belajar yang diselingi dengan memeriksa notifikasi TikTok, membalas pesan WhatsApp, atau sekadar scrolling Instagram membuat otak sulit mencapai fase Deep Workâsebuah kondisi fokus tanpa gangguan yang memungkinkan kita memahami materi kompleks dalam waktu singkat.
Setiap kali Anda terdistraksi oleh ponsel, otak membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk kembali ke tingkat fokus semula. Bayangkan berapa banyak energi mental yang terbuang jika dalam satu jam Anda mengecek ponsel sebanyak lima kali. Sebuah studi oleh Kurniawan et al. (2022) menegaskan hal ini; penggunaan gawai yang tidak terkontrol saat belajar secara signifikan menurunkan daya konsentrasi dan merusak struktur pemahaman materi. Pola belajar yang sukses di era modern bukan lagi soal “berapa jam saya belajar”, tapi “seberapa berkualitas fokus saya dalam satu jam tersebut”.
Memahami Gaya Belajar: Bukan Sekadar Label
Banyak mahasiswa terjebak pada satu metode belajar hanya karena metode itu populer, tanpa menyadari bahwa setiap individu memiliki cara unik dalam menyerap informasi. Lubis dan Siregar (2023) dalam penelitiannya pada mahasiswa kedokteran menemukan bahwa sinkronisasi antara gaya belajar (visual, auditori, atau kinestetik) dengan materi yang dipelajari mampu mendongkrak capaian akademik secara signifikan.
Misalnya, seorang mahasiswa visual akan jauh lebih cepat paham jika menggunakan mind mapping yang penuh warna daripada sekadar membaca teks panjang. Sebaliknya, mahasiswa auditori mungkin lebih terbantu dengan mendengarkan rekaman kuliah atau berdiskusi aktif di kelompok studi. Mengenali pola mana yang paling cocok dengan “mesin” otak kita adalah langkah awal menuju efisiensi belajar.
Kutipan Penting
“Pola belajar bukan hanya soal metode teknis, melainkan tentang bagaimana seorang mahasiswa membangun kebiasaan berpikir kritis dan disiplin terhadap waktu yang mereka miliki. Hasil belajar hanyalah efek samping dari sistem yang bekerja dengan baik.”
Tips Mengubah Pola Belajar agar Lebih “Powerful”
Jika Anda merasa usaha yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapat, mungkin ini saatnya melakukan audit total terhadap pola belajar Anda. Berikut adalah beberapa strategi yang bisa diterapkan:
- Gunakan Teknik Pomodoro yang Dimodifikasi: Belajar 25-50 menit secara total (tanpa ponsel!), diikuti istirahat 5-10 menit. Jeda ini sangat penting untuk proses konsolidasi memori di otak.
- Praktik Active Recall dan Spaced Repetition: Jangan hanya membaca. Tutup buku Anda, lalu coba tuliskan kembali poin-poin penting dari ingatan. Lakukan pengulangan di hari berikutnya, tiga hari kemudian, hingga seminggu kemudian untuk memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
- Feynman Technique: Cobalah menjelaskan materi yang sulit kepada teman atau bahkan “imajinasi” seorang anak kecil dengan bahasa yang sangat sederhana. Jika Anda tidak bisa menjelaskannya dengan simpel, berarti Anda belum benar-benar memahaminya.
- Evaluasi Diri Secara Berkala: Jangan menunggu ujian akhir untuk tahu Anda lemah di bagian mana. Luangkan waktu di setiap akhir pekan untuk melakukan self-quiz guna memetakan area yang masih abu-abu.
Kesimpulan: Membangun Sistem, Bukan Sekadar Mimpi
Pada akhirnya, hasil belajar yang gemilang bukanlah sebuah kebetulan atau sekadar keberuntungan saat menjawab soal ujian. Ia adalah buah dari pola belajar yang sehat, terukur, dan berkelanjutan. Mahasiswa yang sukses di masa kini bukanlah mereka yang paling lama begadang sampai mata merah, melainkan mereka yang paling cerdas dalam mengelola energi, waktu, dan konsentrasinya.
Pola belajar adalah investasi jangka panjang. Keterampilan mengelola cara belajar ini tidak hanya berguna untuk mengejar IPK di kampus, tetapi akan menjadi modal berharga saat Anda terjun ke dunia kerja nanti, di mana kemampuan belajar cepat (fast learner) sangat dihargai. Jadi, sudahkah Anda mengevaluasi dan memperbaiki pola belajar Anda hari ini?***
*Penulis adalah Mahasiswi Prodi Teknik Industri Universitas Pamulang





