Sampah dan Permasalahannya

SAMPAH DAN PERMASALAHANNYA

TangselMedia-Sampah lingkungan selalu menjadi persoalan yang kita jumpai di manapun kita tinggal. Hampir di semua kota besar, baik di Indonesia maupun negara manapun dihadapkan dengan permasalahan ini. Jumlah penduduk yang semakin padat akan mendorong jumlah sampah domestik semakin meningkat. Sebagai contoh adalah Jakarta, dalam berita yang dirilis Kompas.com – 21/03/2021, pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Syaripudin memerinci bahwa Jakarta pada tahun 2014 mengirimkan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang sebanyak 5.665 ton per hari. Tahun 2015 meningkat sebanyak 6.419 ton per hari. Tahun 2016, sampah yang dikirimkan menjadi 6.562ton perhari, pada 2017 sebanyak 6.875 ton per hari, pada 2018 sebanyak 7.453 ton per hari, pada 2019 sebanyak 7.702ton perhari, dan pada 2020 sebanyak 7.424 ton per hari. Permasalahn ini tentu juga dihadapi oleh kota-kota sekitar Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk cukup tinggi.

Tidak semua sampah domestik ini bisa diangkut ke tempat Tempat Pengolahan Sampah (TPS) mengingat jumlah sampah yang banyak, terlebih lagi tidak semua pemukiman memiliki tata kelola sampah yang baik. Sehingga ada kecenderungan warganya abai tentang penanganan sampah. Jika sampah ini tidak dikelola dengan baik, tentu akan menjadikan persoalan rumit yang tidak kunjung selesai baik bagi masyarakat maupun pemerintah.

Keberadaan sampah menjadikan pemandangan yang kurang nyaman. Hal ini bisa terjadi di mana-mana, di pemukiman, pasar, lingkungan sekolah, lingkungan tempat ibadah, sungai, fasilitas umum, tempat olah raga, dan di mana saja. Sampah akan menimbulkan bau tak sedap menyengat. Masih banyak dijumpai sampah rumah tangga hanya dimasukan kantong plastik, diikat dan dibuang di pinggir jalan. Jumlahnya terus bertambah karena semakin banyak orang lain yang mengikuti. Banyak juga yang membuang sampah ke sungai atau got sehingga sungai menjadi kotor, bau, dangkal, tempat berkembang nyamuk di musim kemarau, dan menimbulkan masalah banjir di musim penghujan.

Ada dua jenis sampah, yaitu sampah organik (dapat terurai dengan tanah) seperti kertas, sisa makanan, dan daun-daunan. Kedua adalah sampah anorganik (tidak dapat terurai dengan tanah) seperti plastik, kaca, dan celana popok bayi. Untuk sampah anorganik sampai saat ini masih tinggi penggunaannya meskipun sudah banyak himbauan dari pemerintah maupun sosialisasi dari berbagai lembaga. Sampah organik tidak dapat terurai dalam waktu singkat, perlu waktu yang lama untuk dapar terurai. Sehingga akan mengganggu kebersihan tanah maupun air dalam jangka waktu yang lama. Namun sebagian sampah non-organik bisa didaur ulang.

Baca Juga  Lagi Kongkow, Ari Menjadi Korban Begal Bersenjata di Tangerang

Penanganan sampah lingkungan sebenarnya bisa diawali dengan langkah sederhana, yakni dengan menyediakan beberapa tempat sampah di rumah untuk memisahkan berbagai jenis sampah. Sampah organik bisa dibusukan dengan cara dibuatkan galian tanah kemudian ditimbun, atau dikumpulkan dengan jenis yang sama pada tempat sampah lingkungan yang nanti bisa diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah. Sementara sampah non organik dikumpulkan tersendiri. Jika sampah itu berupa kertas, kardus atau plastik yang bisa dijual lebih baik dijual, atau dimusnahkan saja dengan cara dibakar dengan incenerator yang idealnya didirikan di setiap RT, RW atau kelurahan.

Yang tidak kalah penting adalah membiasakan disiplin untuk tidak membuang sampah sembarangan agar sampah tidak berserakan disembarang tempat. Kebiasaan baik ini sebaiknya ditanamkan kepada anak-anak sejak dini, baik di rumah, maupun di sekolah. Harapan ke depan akan terbentuk generasi yang peduli dengan lingkungan. Kegiatan kerja bakti di lingkungan tingkat RT atau perumahan sebaiknya dirutinkan pada hari libur untuk bersih-bersih dan berbenah di lingkungan. Kegiatan ini akan terasa menyenangkan karena dapat menambah keakraban serta kebersamaan. Apalagi di wilayah perkotaan rata-rata warganya adalah perantau, tentang dengan kegiatan ini akan menjadi perekat keakraban di lingkungan tempat tinggal.

Belajar dari negeri tetangga yaitu Singapura, untuk membentuk kedisiplinan warganya dalam menjaga kebersihan ternyata perlu proses panjang dan serius, mulai dari tata kelola sampah yang tertib oleh pemerintah, sosialisasi kepada warga, pemberian teguran dan sangsi bagi yang melanggar, bahkan hingga hukuman berupa kerja sosial untuk bersih-bersih jalan atau sungai dan kegiatan itu ditayangkan dalam acara TV sehingga memberikan efek jera. Namun hasilnya seperti kita ketahui saat ini, Singapura berpredikat sebagai salah satu negara paling bersih di dunia. Masyarakat di sana telah terbentuk kedisiplinannya sehingga merasa memiliki dan bertanggungjawab atas kebersihan negaranya. Sebagai salah satu contoh mereka akan memilih mengantongi bungkus makanan atau permen daripada membuang di sembarang tempat manakala tidak menjumpai tempat sampah. Mereka akan membuangnya ke tempat sampah apabila telah menjumpai tempat sampah.

Meskipun tempat tinggal kita bukan pemukiman mewah, namun akan terasa nyaman apabila terjaga kebersihan dan kerapihannya. Ada kalimat sederhana namun baik untuk kita ingat, “Jika Anda tidak rajin hadir dalam kerja bakti untuk bersih-bersih lingkungan, maka janganlah dermawan dengan menyumbangkan sampah di lingkungan Anda”. Semoga tidak salah.

Kontributor: Abdul Choliq (Dosen Teknik Mesin Universitas Pamulang).

Tags:
Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply