Walhi: Selamatkan Orangutan Tapanuli Atau Pongo Tapanuliensis

Walhi: Selamatkan Orangutan Tapanuli Atau Pongo Tapanuliensis

Ilustrasi – Satu dari dua individu Orangutan keluar dari kandang saat dilepasliarkan di Hutan Lindung Sungai Lesan, di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Sabtu (3/11/2018). (ANTARA FOTO/HO/Heri-Center for Orangutan Protection/jhw/foc.)

TangselMedia – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Sumatera Utara meminta masyarakat agar tetap mendukung penyelamatan Orangutan Tapanuli atau “Pongo Tapanuliensis” di kawasan konservasi Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, dari ancaman kepunahan. “Populasi Orangutan Tapanuli itu, hanya tinggal berapa ekor lagi dan dikhawatirkan akan mengalami kepunahan,” ujar Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut Dana Prima Tarigan, di Medan, Rabu.

Penyelamatan satwa langka yang hidup di hutan Batang Toru, menurut Dana, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga masyarakat. “Jadi, Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengapresiasi warga yang ikut melindungi orangutan tapanuli,” ujar Dana.

Dana mengatakan, masyarakat yang mengawasi ekstra ketat orangutan dari perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, perlu diperhatikan kehidupan mereka. Karena, warga tersebut telah bersusah payah mendukung pelestarian Orangutan Tapanuli dari pelaku perburuan liar.

Dana mengatakan, kehadiran Orangutan Tapanuli yang berada di kawasan hutan lindung Batang Toru merupakan satwa langka species baru yang terdapat di Indonesia. Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) dinobatkan sebagai spesies orangutan ketiga, setelah Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan) dan Pongo abelii (Orangutan Sumatera).

“Kehadiran Orangutan Tapanuli tersebut, juga merupakan kebanggaan bagi Indonesia umumnya, dan Provinsi Sumut khususnya,” ujar Pemerhati Lingkungan itu. Sebelumnya, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno menyampaikan Orangutan Tapanuli merupakan temuan terbesar abad ini.

Menurut dia, pengukuhan spesies baru itu ditandai dengan perbedaan genetik yang sangat besar diantara ketiga jenis orangutan, melebihi perbedaan genetik antara gorila dataran tinggi dan rendah, maupun antara simpanse dan bonobo di Afrika, sebagaimana disampaikan salah seorang peneliti IPB, Puji Rianti. “Perbedaan lainnya dari segi morfologi, yaitu ukuran tengkorak dan tulang rahang lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies lainnya, serta rambut di seluruh tubuh Orangutan Tapanuli yang lebih tebal dan keriting,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian tahun 2016, tidak lebih dari 800 individu Orangutan Tapanuli hidup pada tiga populasi terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru. Hal ini disebabkan tekanan akibat konversi hutan dan perkembangan lainnya. Saat ini kawasan seluas 150.000 Hektare tersebut merupakan habitat terakhir bagi Orangutan Tapanuli dengan jumlah individu terpadat, yaitu kurang dari 110.000 Hektare.

Tags:
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply