Inovasi Pendidikan Balai Pendidikan Non Formal Bagi Anak-Anak Papua Yang Tidak Bersekolah

INOVASI PENDIDIKAN BALAI PENDIDIKAN NON FORMAL BAGI ANAK-ANAK PAPUA YANG TIDAK BERSEKOLAH

Ditulis Oleh : Ikha Handayani*

 

Diketahui bahwa sampai saat ini, permasalahan yang sulit diatasi dalam bidang di Indonesia adalah tingkat pendidikan yang tidak merata. Pada beberapa wilayah di Indonesia, minim pendidikan. Bagi sebagian orang, pendidikan masih dianggap sebagai perihal yang tidak terlalu penting terutama untuk beberapa wilayah di Indonesia yang masih tertinggal. Hal ini menyebabkan tingkat pendidikan di wilayah tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan kota-kota besar. Minimnya pendidikan di wilayah tertinggal disebabkan karena kurangnya kesadaran orang tua dalam memberikan bekal pengetahuan kepada anaknya. Banyak orang tua yang tidak memberikan support bagi anak untuk bersekolah tinggi karena berfokus agar anak segera bekerja menghasilkan uang ataupun menikah. Itulah yang menyebabkan fenomena pendidikan pada anak-anak di desa cenderung lebih rendah dan minim. Adapun salah satu wilayah yang memiliki tingkat pendidikan cukup rendah yaitu di wilayah Papua.

Jika menelisik data dari Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui bahwa 21,1% generasi muda di Papua tidak pernah bersekolah dimana angka ini paling tinggi dibanding provinsi yang lain di Indonesia. Data BPS di tahun 2020 juga mencatat untuk Penduduk Usia Sekolah di Papua sebanyak 476.534 orang diketahui tidak bersekolah. Banyak anak di wilayah Papua dan Papua Barat putus sekolah secara sengaja ataupun tidak penyebabnya dari anak maupun keluarganya tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di wilayah Papua masih terbilang memprihatinkan. Padahal untuk membangun kemajuan negara tentu dibutuhkan sumberdaya manusia yang cerdas untuk menunjang keberhasilan berbagai sektor kehidupan. Negara pun diketahui masih stuck dalam pendidikan di Papua sehingga dibutuhkan inovasi baru dalam upaya pemerataan pendidikan di wilayah Papua sehingga anak-anak yang tidak bersekolah mendapatkan kesempatan untuk meneguk ilmu pengetahuan.

Fenomena mengenai anak-anak di Papua yang tidak bersekolah ini tentu sangat disayangkan mengingat sebenarnya negara sudah memberikan anggaran dana dalam perbaikan fasilitas pendidikan. Beberapa upaya juga dilakukan pemerintah misalnya mendorong guru untuk tersebar di wilayah-wilayah terpencil untuk mendidik anak-anak, namun belum efektif untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan di Papua, khususnya terkait rendahnya minat anak dalam bersekolah. Namun, hal tersebut belum cukup mengatasi masalah pendidikan Papua terutama dari akarnya.

Menyoroti persoalan ini sebenarnya perbaikan fasilitas pendidikan untuk menunjang proses pembelajaran saja tidak cukup. Dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa jalur pendidikan tersusun atas pendidikan formal, non formal dan informal yang semuanya dapat berkolaborasi dan saling melengkapi. Dalam hal ini, bagi beberapa anak usia sekolah yang tidak memungkinkan dan sulit didorong untuk mengenyam pendidikan formal bisa memilih alternatif pendidikan informal maupun non formal. Untuk pendekatan pendidikan di wilayah Papua perlu adanya dorongan pengenalan pendidikan non formal agar bisa mengembalikan anak usia sekolah agar dapat mengenyam pendidikan di tanah air. Anak-anak Papua yang memiliki kesadaran akan pendidikan yang rendah perlu memperoleh sistem pembelajaran yang berbeda, dimana kurikulum yang diterapkan sebenarnya bisa saja dibahas terpisah mengingat untuk mendidik anak di Papua tentu berbeda dengan anak-anak di wilayah lainnya.

Baca Juga  Cara Mengatasi Awan Kelabu Mahasiswa Perantau di Era Pandemi Covid–19 untuk Tetap Survive

Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut, maka salah satu inovasi bidang pendidikan yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Papua yaitu dengan mendirikan suatu balai dengan sistem pendidikan non formal. Hal ini bisa menjadi sarana pendidikan untuk anak-anak Papua yang tidak menempuh pendidikan tingkat formal di SD, SMP, ataupun SMA. Dengan demikian anak-anak bisa memperoleh pendidikan layak yang setara dengan jalur pendidikan formal meskipun sistem pendidikannya sangat berbeda. Pendirian Balai Pendidikan Non Formal menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan agar didukung oleh pemerintah mengingat pendirian balai ini tidak membututuhkan anggaran dan waktu yang besar layaknya pendidikan formal. Sesuai realita yang ada di Papua bahwa infrastuktur masih belum sempurna, namun permasalahan pendidikan termasuk masalah mendesak yang harus diatasi untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas.

Balai pendidikan non formal ini sangat cocok digencarkan dan didirikan di wilayah Papua untuk memberi kesempatan bagi anak dalam bersekolah karena berbagai alasan. Balai  non-formal dapat dibuat lebih menyenangkan agar menarik anak-anak untuk bersekolah. Pada balai pendidikan non formal, anak tidak akan dituntut untuk menggunakan seragam sekolah, membawa buku, mendengarkan guru mengajar dan memenuhi kurikulum. Peraturan-peraturan ketat yang umumnya harus dipatuhi di sekolah formal, tentu tidak diterapkan pada balai pendidikan non formal yang lebih mengusung pada kebebasan  Pendirian balai pendidikan non formal bisa dilakukan di wilayah-wilayah terpencil atau terisolir dimana jarak untuk menempuh sekolah formal cukup jauh sehingga mengakibatkan banyak anak memutuskan tidak sekolah. Dengan alasan tersebut, maka anak-anak yang tidak bersekolah dapat mengikuti proses pembelajaran bersama fasilitator yang tersedia di balai non formal bersama sejumlah anak. Secara umum, anak-anak yang masih berada di usia sekolah memiliki rasa ketertarikan dan keingintahuan yang tinggi sehingga dengan pendirian balai pendidikan non-formal tentu membuat anak-anak tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran, terutama jika bersama teman-teman sepermainanya.

Pada balai ini sistem pendidikan yang digunakan bisa dibuat dengan fleksibel yang menyesuaikan kebutuhan peserta didik maupun kondisi guru. Anak-anak bisa bersekolah sesuai keinginannya dimana orang tua juga tidak keberatan karena biaya sekolah tentu tidak akan begitu membebani mereka terutama terkait pembayaran buku dan seragam sekolah. Dengan pembelajaran fleksibel di balai pendidikan non formal ini maka anak jauh lebih tertarik untuk belajar dan akhirnya menganggap pendidikan sebagai kebutuhan. Anak-anak yang tidak bersekolah dapat secara perlahan diperkenalkan untuk belajar di balai pendidikan non-formal sehingga memperoleh pendidikan layak.***

*Penulis adalah Mahasiswa Prodi Teknik Kimia Universitas Pamulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *