Ketidak Sempurnanya Manusia

Opini 0
Ketidak Sempurnanya Manusia

Umat muslim membaca Alquran di Masjid Asy-Syuhada, Kenali Besar, Jambi, Kamis (1/6). Pada bulan Ramadan, umat muslim memanfaatkan waktunya dengan memperbanyak ibadah dan mengharapkan ampunan dari Allah SWT. Foto: Wahdi Septiawan/Antara

TangselMedia – Manusia memiliki kekuatan fisik. Dilengkapi kekuatan akal, pikiran, hawa nafsu, ambisi dan lain sebagainya yang bersifat nonfisik. Kedua berangkat tersebut menjadi bukti kekuasaan Allah SWT yang telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya (QS. At-Tin). Wajah tampan rupawan, cantic jelita, dilengkapi peran dan fungsi pencaindra yang sempurna (QS. Al-Infathar).

Namun, manusia juga harus menempuh proses pelemahan:”Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu, kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu, lemah kembali dan beruban. Dia menjadikan apa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (QS ar-Rum: 54).

Kekuatan dan kekuasaan manusia, sebagai bagian dari berbagai jenis makhluk ciptaan Allah SWT, memiliki batas. Baik batas usia, kebugaran, daya pikir, maupun kekuasaan atas segala sesuatu yang meliputi harta, takhta, pangkat, jabatan dan lain-lain. Tidak ada yang langgeng. Semua akan menemui ujung pada titik tertentu. Apakah berupa ajal kematian, apakah berupa selesainya suatu garapan pada satu bidang kerja. Ada yang mulus. Ada yang rumit dan ruwet. Sehingga ditandai kehancuran mengenaskan.

Tidak ada yang abadi di muka bumi (QS ar-Rahman: 26). Setiap yang bernyawa akan menemui maut (QS Ali Imron: 185). Termasuk dalam hal kekuasaan duniawi. Banyak orang yang mendapat amanah kekuasaan dari Allah SWT, melalui rakyat yang memilih seseorang menjadi pemimpin formalnya. Mulai dari tingkat tertinggi hingga terendah. Tapi kekuasaan nyata tetap ada pada Allah SWT.

Dia Maha Pemilik Kekuasaan. Memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mencabutnya dari siapa saja yang Dia kehendaki pula. Dia memuliakan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki pula. Dia pemilik segala kebajikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran: 26).

Oleh karena itu, di dalam kitab suci Quran, terdapat kisah-kisah para penguasa zaman dulu, yang sombong dan arogan, menyalahgunakan kekuasaannya untuk berbuat zalim. Bukan saja terhadap manusia, rakyat yang seharus dipimpin serta diayomi, melainkan juga zalim kepada Allah SWT. Sebut saja Namrudz dan rezimnya, yang menentang dakwah tauhid Nabi Ibrahim AS. Bahkan, mereka menangkap dan membakar Nabi Ibrahim AS. (QS al-Anbiya: 69).

Atau rezim Fir’aun yang menentang dakwah Nabi Musa AS. Dengan mengandalkan kehebatan pasukan dan harta kekayaan, yang menjadikan Firaun mampu membangun pasak bumi, berupa piramid-piramid mirip bukit menjulang tinggi. (QS al-Fajr: 10), Firaun mencoba melemahkan dakwah Musa AS. Hingga pada akhirnya, Fir’aun dan balatentaranya ditenggelamkan di laut. (QS Thaha: 78). Semua itu mencontohkan, betapa kekuasaan?terutama yang disalahgunakan?sangat rawan ditelan kehancuran.

Pada zaman modern ini, tidak sedikit pula contoh penguasa terjungkal akibat perilakunya yang menyimpang dari amanah, melanggar undang-undang, peraturan, norma dan etika. Banyak pula contoh yang terjadi di tingkat lokal kabupaten, kota, malah kampung dan desa.

Itu menunjukkan, kekuatan dan kekuasaan manusia amat terbatas. Sangat kecil dibandingkan Maha Pemilik Kekuasaan, Allah SWT, yang memerintahkan semua manusia beriman dan bertakwa kepada-Nya. Menjadi lemah, tua, beruban, pikun, dan sebagainya, merupakan bukti yang harus ditafakuri, karena akan menimpa siapa saja, baik kaum elite maupun kaum alit. Tak ada alasan untuk merasa tampan, kaya, punya kuasa, sehingga merasa bebas berbuat sewenang-wenang.

 

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply