PSBB, Kebijakan Baru Atau Masalah Baru Yang Harus Dihadapi

PSBB, Kebijakan Baru Atau Masalah Baru Yang Harus Dihadapi

Oleh Widia Astuti*

Covid-19 adalah satu jenis virus dari keluarga corona virus yang berbahaya untuk manusia. Penulisan angka 19 di dalam kata COVID-19 adalah tahun dimana virus menyebar, yang berarti tahun 2019. Sebenarnya ada banyak jenis corona virus yang sudah di temukan atau sudah di ketehui sejak lama, namun dari sekian banyak jenis hanya beberapa yang membahayakan bagi manusia. Kalo tidak salah ada 4 jenis yang berbahaya bagi manusia, salah satunya covid-19. Sebenarnya tingkat resiko kematian yang di sebabkan oleh covid-19 sangatlah kecil, di banding virus jenis lain seperti HIV,  AIDS , ebola, dan lain-lain. Virus ini dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernafasan,  infeksi paru-paru berat, sampai kematian. Virus ini pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa efeknya bisa merambat kemana-mana? Kemana-mana jadi tidak kondusif, keuangan, dan lain-lain.

Di tengah pandemi corona, sangat berdampak pada kondisi Ekonomi negara kita dan  berada di kondisi yang sangat memprihatinkan. Karena dari segi pertumbuhan ekonomi pun terdapat penurunan drastis dari berbagai sektor, mulai dari keterpurukan sektor perdagangan, jasa hingga terjadi pengurangan tenaga kerja dan bursa saham. Menjelaskan kondisi yang terjadi saat inipun juga sangat berimbas pada menurunnya kondisi rumah tangga dari sisi Konsumsi,  karena masyarakat sudah tidak beraktifitas di luar rumah hingga daya belipun menurun.  Dan investasi pun merosot tajam dan diperkirakan bisa mencapai di level 1%. Apalagi ekspor import pun yang sangat merasakan dampaknya. Berbagai dampak yang di timbulkan akibat pandemi, juga terdapat pada penurunan penerimaaan pajak  pada berbagai aspek Pemungutan . Padahal pajak sangat berfungsi sebagai salah satu sumber penghasilan.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB) diambil untuk mencegah penyebaran virus corona (covid-19) di indonesia khususnya di setiap wilayah, hingga kegiatan ekonomi terhambat dan tertekan. Pemerintah juga harus bersiap apabila pandemi ini masih bertahan antara 3-6 bulan lagi maka situasi akan lebih memburuk, dimana pertumbuhan ekonomi diperkirakan pada kisaran 2,5% bahkan 0%. Karna itu kemiskinan pun merajalela, yang tadinya angka kemiskinan bisa di tekan. Tetapi di saat masa pandemi ini malah bertambah di karenakan banyaknya karyawan di PHK dari setiap perusahaan hingga ancaman kebangkrutan. Kondisi keuangan saat pandemi ini mengalami penurunan. Akibat pandemi covid 19 tentu sangat berdampak. Mengingat pengaturan PSBB sudah diberlakukan sejak bulan April. Banyak perusahaan-perusahaan yang tutup karena ini dan berdampak pada dirumahkannya karyawan bahkan ada yang sampai di PHK tanpa adanya uang pesangon atau uang terima kasih yang mereka terima. Walaupun mereka sudah bekerja cukup lama dengan alasan mereka akan di hubungi kembali saat kondisi di indonesia sudah mulai membaik.

Tentu ini akan menimbulkan dampak bagi perekonomian di Indonesia. Dampak terjadi dalam berbagai bidang, baik bidang pariwisata, pendidikan, serta usaha-usaha menengah ke bawah. Sebagai contoh terganggunya pasokan bahan baku sehingga mempengaruhi kegiatan ekonomi. Karena kegiatan operasional menjadi tidak lancar karena penyuplai kekurangan stok bahkan untuk sekedar modal usaha. Beberapa hari sebelum PSBB banyak perusahaan mengalami penurunan pendapatan. Sehingga gelombang PHK atau dirumahkannya karyawan tidak bisa dihindari dan menjadi langkah terakhir atau hanya memanfaatkan kondisi untuk menguntungkan perusahaan itu sendiri karena tidak ingin membayar Tunjangan Hari Raya kepada para karyawannya dan mereka hanya bisa pasrah dengan kebijakan yang di buat oleh perusahaan.

Baca Juga  Ketua Bidang Humas PP IKADI, Sanggah Tulisan Nadirsyah Hosen

Namun saat pandemi seperti saat ini, beberapa orang kebanyakan menjadi sangat kreatif untuk membuka usaha kecil-kecilan demi bertahan hidup. seperti yang marak sekarang, semakin banyak yang berjualan makanan ringan, menawarkan jasa, serta menjual makanan untuk berbuka puasa. Karena beberapa pebisnis makanan dan minuman kehilangan pembeli akibat pembatasan sosial, mereka mencari cara lain agar perekonomian tetap berputar. Memanfaatkan media sosial untuk berpromosi sehingga bisa dipesan secara online dan menerapkan sistem cash on delivery. Jika diperhatikan, ternyata beberapa orang bisa memanfaatkan peluang agar roda perekonomian dapat berputar.  Sebagai contoh, pebisnis pakaian atau kerudung bisa beralih membuat masker-masker kain yang kini wajib dipakai saat pandemi demi mencegah penyebaran virus. Atau berbisnis online hanya untuk sekedar menyambung hidup di masa yang serba sulit seperti sekarang yang tidak bisa di pastikan sampai kapan terjadi dan berubah menjadi sediakala dan kegiatan berjalan normal kembali.

Selain kebijakan PSBB, pemerintah juga mengeluarkan beberapa kebijakan untuk upaya penyelamatan perekonomian. Seperti mengeluarkan kebijakan keringanan biaya listrik kepada pelanggan PLN ditengah pandemi covid 19. Kebijakan tersebut telah diberlakukan sejak awal April 2020. pelanggan yang berhak menerima benefit tersebat adalah pelanggan rumah tangga 450 VA  serta subsidi diskon 50% untuk pelanggan rumah tangga 900 VA tetapi berbanding terbalik untuk masyarakat yang tidak merasakan keringanan tersebut mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk kebutuhan ini. Ada juga kebijakan lainnya dari pemerintah untuk penyelamatan perekonomian yaitu relaksasi pajak, pemberian bantuan langsung tunai, menjaga pasokan dan distribusi bahan pangan, pemberian relaksasi UMKM. Dan juga yang paling hangat dibahas yaitu pemberian program prakerja serta insentif bagi masyarakat yang telah lolos seleksi. Tapi disisi lain ada kebijakan Kenaikan iuran BPJS yang sangat membuat masyarakat resah di tengah masalah ini , masyarakat harus lebih bisa mengontrol untuk kebutuhan rumah tangga karena tidak semua dapat merasakan dampak dari kebijakan baru yang di ambil pemerintah, apakah semua ini bisa mengatasi masalah Ekonomi saat ini, apakah ini jalan yang terbaik yang sudah di lakukan pemerintah atau bahkan menambah beban rakyat indonesia?***

 

*Penulis adalah Dosen Prodi Manajemen Universitas Pamulang

Tags:

Related Posts

Leave a Reply