12 Orang Meninggal Akibat Demam Berdarah Di Kediri-Jatim

Info Kota 0
12 Orang Meninggal Akibat Demam Berdarah Di Kediri-Jatim

Petugas memberikan penanganan medis kepada pasien penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Rumah Sakit Umum Daerah Simpang Lima Gumul, Kediri, Jawa Timur, Senin (28/1/2019). Data dari Dinas Kesehatan setempat menyatakan penderita DBD terus meningkat yang mengakibatkan dua belas orang meninggal dunia dalam kurun waktu tiga pekan terakhir. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/ama.

TangselMedia – Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Jawa Timur mengungkapkan jumlah korban meninggal dunia akibat penyakit demam berdarah dengue (DBD) di wilayah itu selama Januari 2019 mencapai 12 orang, dan mayoritas berusia di bawah 15 tahun. “Korban meninggal dunia ada 12 orang. Kalau jumlah penderita mulai Januari mencapai 271 orang, ranking satu se-Jatim,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Adi Laksono di Kediri, Senin. Adi mengatakan, jumlah kasus yang terdata ini cukup banyak dan terjadi pada usia produktif, tetapi mayoritas anak-anak, serta berasal dari berbagai daerah di wilayah.

Adi mencatat, dari 12 orang yang meninggal dunia, mereka menderita DSS (Dengue shock syndrome), sehingga nyawanya tidak dapat diselamatkan karena kondisinya sudah parah saat dibawa ke rumah sakit atau puskesmas. Adi meminta agar setiap orang tua waspada jika ada anggota keluarga yang mengeluhkan sakit panas dan harus segera dibawa ke rumah sakit untuk memastikan sakitnya berbahaya atau tidak, agar tim medis bisa langsung melakukan perawatan atas pasien. Adi menyebut banyak faktor yang memengaruhi tingginya jumlah penderita DBD di Kediri, salah satunya karena kewaspadaan masyarakat yang masih belum optimal.

Baca Juga  Gunung Kidul Mengembangkan Pariwisata Dengan Sistem Klaster

Selain itu, budaya melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) masih kurang, menyebabkan jentik nyamuk bisa leluasa berkembang. “Ini kami evaluasi. Intinya ini siklus tiga tahunan, dan karena secara budaya psikologis, kasus tinggi masyarakat bergerak, waspada, begitu tahun berikutnya turun, pasti lupa PSN. Padahal, satu pekan sekali penting untuk mengecek ada jentik atau tidak, sehingga tahun kedua meningkat. Ini di Desember 2018 juga sudah mulai ada kenaikan, rumah sakit juga penuh,” ujar dia.

Adi menegaskan, PSN harus intensif dilakukan, sehingga diharapkan bisa menekan penyebaran nyamuk Aedes Aegypti. “Nyamuk ini berkembang biak di air bersih, sehingga pembersihan berbagai media yang bisa menampung air bersih harus dilakukan, misalnya di kamar mandi, kolam air, hingga tempat minum burung,” ujarnya. Adi juga meminta agar kebersihan di lingkungan sekolah dan kantor juga diperhatikan, serta harus dipastikan terbebas dari nyamuk dengan intensif melakukan PSN. Ia berharap, kegiatan tersebut dapat menekan seminimal mungkin penyebaran nyamuk demam berdarah, sehingga dapat menekan warga yang terkena penyakit demam berdarah.

Tags:

Related Posts

Leave a Reply