Urgensi AQ dan EQ Dimasa Pandemi !

URGENSI AQ DAN EQ DIMASA PANDEMI !

 

Oleh :

Purwati Yuni Rahayu, S.Pd., M.Pd.*

 

Masa Pandemi Covid-19 masih belum berakhir meskipun sudah hampir 9 bulan sejak kasus pertama diumumkan. Dimasa pandemi ini, banyak pihak yang merasa kehidupannya semakin menjadi berat. Hal tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Sebagai contoh, banyak masyarakat kita yang berprofesi sebagai pedagang dan menjual barang dagangan secara langsung kepada konsumen namun karena belum tersentuh “digitalisasi” mereka harus memutar otak serta bekerja ekstra keras bagaimana caranya untuk tetap dapat berjualan dan menghidupi keluarga. Contoh permasalahan tersebut sering sekali kita jumpai diawal-awal Covid-19 menyerbu negara kita. Lantas bagaimana dengan sektor lain ?

Mungkin anda pernah membaca atau mendengar berita bahwa ada orangtua yang tega membunuh anaknya karena merasa stress dan tertekan karena sang anak sulit belajar secara online. Kasus lain yang tak kalah memilukan adalah pada saat anak merasa “tertekan” dengan banyaknya tugas, sulitnya akses internet, terbatasnya waktu dalam belajar online sehingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tentu hal tersebut amat sangat disayangkan. Kita tidak dapat terus menerus menuntut guru yang merupakan “wayang” dari Kementrian dalam menjalankan kegiatan belajar mengajar terbaik versi pandemi yaitu belajar online. Tentu pilihan tersebut merupakan pilihan yang terbaik dari pilihan-pilihan yang buruk.

Dibalik hikmah terjadi percepatan digitalisasi dunia Pendidikan di Indonesia, namun banyak sekali permasalahan-permasalahan yang terus dihadapi selama pandemi. Mulai dari guru dan murid yang belum sepenuhnya siap belajar secara daring, tuntutan kurikulum yang dirasa berat tercapai, baik guru dan murid wajib memiliki smartphone serta akses internet yang mumpuni, proses belajar mengajar yang kurang optimal karena seringkali terjadi kebosanan baik pada murid maupun guru sehingga pada akhirnya guru hanya sekedar memberikan tugas dan pada akhirnya murid semakin terbebani.

Hampir semua pihak mengalami kesulitan dalam menghadapi pandemi ini. Butuh solusi nyata agar kita semua tetap merasa “waras” dan bahagia menjalani kehidupan. Oleh sebab itu, pada saat seperti ini selain pengelolaan emosi yang tepat, adversity quotient sangat diperlukan dalam menghadapi permasalahan kehidupan. Kemampuan mengelola emosi/kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.  Hal tersebut tentunya sangat dibutuhkan sebagai pengendali diri, misalnya dengan menerima  bahwa diri kita tidaklah sempurna tapi kita selalu bisa memberikan kemampuan kita yang terbaik dalam segala hal. Dengan cara seperti itu kita melatih diri bahwasanya kita tidak harus lebih baik dari orang lain, tapi wajib lebih baik dari versi diri kita sebelumnya. Misalnya saja pada saat Work From Home (WFH) kita lebih malas dan bangun siang, maka esok kita harus membuat jadwal rutinitas agar semuanya dapat terlaksana dengan baik dan tepat waktu.

Baca Juga  Kementan: 2019 Bali Bebas Penyakit Jembrana

Menurut Stoltz (2000) Adversity quotient merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengalami kesulitan dan mengolah  kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga menjadi sebuah tantangan untuk diselesaikan. Stoltz menyatakan bahwa terdapat 3 tingkatan daya tahan seseorang dalam mengahadapi masalah yaitu Quitters (orang yang memilih keluar dan menghindari kewajiban, berhenti berusaha), Campers (orang-orang yang berusaha sedikit namun merasa puas), dan yang terakhir Climbers (tipe yang terus berusaha).

Jangan sampai selama pandemic kita menjadi kaum Campers yang puas apabila pekerjaan kita selesai, apalagi Quitters menunda pekerjaan dengan banyak alasan dan menjadi tidak produktif. Meskipun masa Pandemi ini sulit, kita semua harus berusaha menjadi kaum Climbers, bekerja dan berkarya kapanpun dan dimanapun kita berada. Habis gelap terbitlah terang, habis Covid mari kita makin Inovatif ! ***

 

*Penulis Adalah Dosen Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang

Tags:
Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply