Dampak Bisnis Kuliner Asing Bagi UMKM

Opini365 Views

DAMPAK BISNIS KULINER ASING BAGI UMKM

Oleh : Nurfatayati *

 

Masuknya budaya asing ke sebuah wilayah pastinya akan membawa dampak bagi wilayah tersebut. Entah itu dalam bentuk bahasa, adat istiadat, maupun makanan. Pastinya budaya tersebut mengalami akulturasi.

Beberapa dekade terakhir banyak sekali budaya luar negeri yang masuk ke Indonesia. Misalnya, tahun 80-an hingga awal 2000-an masuknya budaya Tionghoa melalui film mandarin. Tahun tersebut juga masuknya film India di pasar hiburan Indonesia. Setelah itu, Indonesia kedatangan budaya Taiwan melalui boyband F4. Sejak 2000-an juga muncul budaya Arab di Indonesia melalui kajian keislaman. Hingga pasca 2010 masuk budaya Korea. Berbeda dengan budaya Jepang yang mendominasi sejak tahun 80-an melalui serial kartun dan komik.

Masuknya budaya tersebut juga mempengaruhi bursa kuliner di Indonesia. Mengapa? Permintaan masyarakat terhadap jajanan luar negeri meningkat akibat pengaruh budaya asing tersebut. Misalnya Ayam goreng tepung dari Amerika, hotdog, burger, kentang goreng banyak ditemukan di Indonesia. Mulai dari outlet besar hingga jajanan di pinggir jalan. Itu juga menjadi salah satu jajanan favorit masyarakat.

Ada lagi, makanan dari timur tengah seperti nasi kabsah dan kebab. Nasi kabsah jarang ditemui di pinggir jalan. Berbeda dengan kebab yang banyak di temui. Mirip dengan jajanan timur tengah, ada nasi briyani yang berasal dari India.

Masuknya budaya Taiwan tidak diikuti oleh kulinernya. Berbeda dengan China, Korea, dan Jepang yang diikuti oleh kulinernya. Jika dulu jajanan korea dan Jepang hanya ditemui di restoran, kini semuanya ada di pinggir jalan.

Tingginya minat masyarakat terhadap jajanan asing tersebut membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM. Tentunya ini berdampak baik bagi perekonomian  masyarakat. Semakin banyak masyarakat yang berwirausaha tentu baik untuk perkembangan sebuah daerah. Selain itu juga menyerap banya tenaga kerja.

Suburnya minat masyarakat terhadap kuliner asing juga memiliki dampak buruk bagi kuliner khas Indonesia. Kuliner asli menjadi tergerus penjualannya akibat sepinya peminat. Misalnya, jajanan seperti getuk, kerak telor, gembus mulai jarang ditemukan. Sepinya pembeli membuat pedagang beralih barang dagangan untuk memutar ekonomi keluarga.

Jajanan bukan perkara sebuah makanan. Namun memiliki ciri khas budaya pemiliknya. Budaya tersebut tertuang dalam kualitas kandungan gizi, tampilan, rasa, bahan baku, dan sebagainya. Jajanan asing tersebut sebenarnya tidak serta merta sama dengan makanan aslinya. Meskipun sudah diadopsi dari negara asalnya, namun sudah mengalami akulturasi rasa. Akulturasi tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan lidah masyarakat. Setiap bangsa memiliki selera rasa makanan yang berbeda. Hal itu dipengaruhi oleh letak geografis, iklim, dan juga bahan baku yang mudah didapat.

Baca Juga  Pentingnya Olahraga dan Kiat Klub Gym Tetap Eksis Ditengah Pandemi Covid-19

Akulturasi makanan membuat yang tadinya asing menjadi serasa lokal. Misalnya masuknya Pempek yang berawal dari pendatang dari Tiongkok yang hendak membuat bakso namun kesulitan bahan baku. Bakso yang terbuat dari daging sapi terpaksa dialihkan dari daging ikan. Hal itu karena sapi menjadi hewan yang disucikan oleh masyarakat Hindu saat itu. Akulturasi dari bakso berbahan dasar daging sapi menjadi berbahan dasar ikan melahirkan pempek. Pempek menjadi makanan khas masyarakat Palembang dan menyebar menjadi jajanan lhas Indonesia.

Hal tersebut juga mungkin akan terjadi dengan aneka jajanan asing yang saat ini marak di sekitar kita. Mereka akan mengalami akulutrasi bentuk, rasa, dan bahan baku yang melahirkan bentuk baru sehingga dapat menjadi kuliner khas Indonesia. Misalnya jajanan Korea yang marak dijajakan di pinggir jalan saat ini, seperti kimci, topoki, dan sebagainya. Cita rasa khas asal Korea sulit diterima oleh lidah masyarakat Indoensia yang lebih suka gurih, pedas, dan mengandung rempah. Tentu ras tersebut kemudian disesuaikan dengan lodah masyarakat kita.

Hal tersebut tentu bagus untuk jati diri kuliner khas nusantara. Semakin banyaknya orang yang menyukai tentu akan melahirkan peluang bisnis bagi para pelaku UMKM. Maraknya jajanan asing juga mengancam eksistensi jajanan tradisional. Untuk itu, pelaku jajanan tradisional.diharapkan berperan aktif melakukan inovasi berupa modernisasi produk. Moderisasi tersebut berupa model, rasa, ataupun kemasan yang kekinian.

Kebanyakan pelaku usaha bisnis kuliner berinovasi melalui nama dan ukuran. Misalnya makanan bertema horor ataupun berukuran jumbo. Tentu akan menarik minat konsumen hanya  saja tidak bertahan lama. Padahal inti dari jualan makanan adalah rasa. Sejauh apapun lokasi penjaja makanan asal memiliki cita rasa yang enak dan ekonomis tentu akan dibeli oleh konsumen.

Sudah saatnya jajanan khas nusantara dapat bersaing dengan jajanan asing. Meskipun persaingan tersebut di dalam negeri. Namun, perang kreativitas pedagang dibutuhkan demi melahirkan kualitas makanan yang dijualnya. Ide yanh inovatif tersebut diharapkan mampu memperkaya bisnis kuliner di Indonesia. Hal ini tentunya untuk meningkatkan minat para pelaku UMKM di Indonesia.***

*Penulis adalah Mahasiswi Universitas Pamulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *