Catatan Iedul Fitri 1438 H

Opini 0

Catatan Iedul Fitri 1438 H

Oleh: Muslim Arbi*

 

Ahad, 1 Syawwal 1438 H kemarin bertepatan dengan 25 Juni 2017 adalah Hari Raya Umat Islam. Seluruh Kaum Muslim dari berbagai pelosok di Tanah Air tunaikan Solat Iedul Fitri dan saling silaturahmi untuk perkokoh rasa persaudaraan sesama muslim maupun dengan umat lainnya.

Momen fitri atau fitriah ini dapat di pergunakan seindah mungkin untuk perkuat hubungan kebersamaan sesama insan manusia di hadapan Khaliq Rabbul Alamin juga antar sesama makhluk sosial supaya terjalin keharmonisan dalam hidup berbangsa maupun bernegara.

Seharusnya momen Iedul Fitri ini dapat di pergunakan maksimal oleh pihak Istana untuk meminta maaf kepada Habib Rizieq Syihab, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Tokoh Senior dan Tokoh Reformasi Prof. Dr. M. Amien Rais, juga melepaskan sejumlah tokoh dan aktifis yang masih di tahan seperti Ustadz Alkhaththath, Ustadz Alfian Tanjung serta Zainuddin Arsyad Presiden AMSA (Association of Moeslem Student of Asean).

Juga membebaskan Dr. Buni Yani dari tuntutan pengadilan, karena apa yang di lakukan Buni itu adalah ekspresi aqidah dalam semangat bela agamanya yang di amanat kan oleh Pasal 29 UUD45. Dr Buni Yani adalah Pahlawan Umat.

Karena sejumlah ulama, tokoh dan aktifis seperti yang di sebutkan di atas mendapat perlakuan yang tidak adil dan terzalimi. Momen Iedul Fitri dan lebaran ini dapat di gunakan semaksimal mungkin bagi pemerintahan Jokowi perbaiki diri merajut kebersamaan kedepan.

Mengapa pemerintah perlu minta maaf kepada HRS dan Pak AR, karena kedua tokoh umat itu terkesan sangat terzalimi atas kasus-kasus yang di tuduhkan kepadanya. Sedangkan sejumlah nama seperti yang disebutkan di atas yang masih ditahan dan dipenjara, dengan alasan dan tuduhan yang tidak jelas, padahal apa yang mereka lakukan semata karena kapasitas sebagai anak-anak bangsa adalah semata sebagai proses demokrasi dan penyampaian aspirasi.

Sudah saatnya rezim ini tidak perlu perpanjang luka yang tidak produktif bagi umat dan dikalangan aktifis dengan memelihara borok-borok di pemerintahan melalui Kepolisan dan KPK untuk permalukan HRS dan Pak AR. Karena perlakuan yang tidak adil itu pasti bangkitkan amarah, dendam dan kecaman dari Umat. Penguasa jangan memelihara amarah umat dan memusuhi ulama dan tokoh reformasi.

Percuma saja berpuasa Ramadhan dan ber-Iedul Fitri, jika sikap penguasa tetap menanam energi negatif dengan mengkriminalkan ulama dan para tokoh dan aktifis. Aura negatif kekuasaan karena perlakuan zalim penguasa akan berbalik jadi bumerang.

Ramadhan Karim telah berlalu dengan terbit fajar 1 Syawwal 1438 H, maka siapa pun yang menjalani Puasa Ramadhan dan ber Iedul Fitri hari ini, harus bisa mendapatkan berkah nya, termasuk penguasa negeri ini. Siapa dan di mana pun Anda berada.

Syawwal artinya peningkatan, bukan jalan di tempat atau mundur. Ke depan nya, mari kelola Negeri ini dengan semangat Fitri, fitrah. Semangat kesucian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan itu adalah dambaan kita semua. Aamiin.

*Penulis adalah Presidium Front Perjuangan Muslimin Indonesia (FPMI)

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Related Posts

Leave a Reply