LKK-UNPAM , ADPISI dan MTT Gelar Coaching Clinic Writing Islamic Journal

TangselMedia-Lembaga Kajian Keagamaan Universitas Pamulang (LKK-UNPAM) bekerjasama dengan Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam (DPW ADPISI) dan Majelis Telkomsel Takwa (MTT) menggelar Coaching Clinic Writing Islamic Journal secara virtual pada Kamis (26/08/2021). Kegiatan ini merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dosen dalam menulis jurnal.

Narasumber pertama akan disampaikan oleh Chairul Mahfud, seorang penulis jurnal terindeks Scopus dan dosen di Institut Sepuluh September (ITS). Sedangkan narasumber kedua akan disampaikan oleh Ahmad Hakam, seorang pengelola jurnal Hayyula Univeristas Negeri Jakarta (UNJ).  Acara dimoderatori oleh Mukhoyyaroh, dosen agama Universitas Pamulang.

Sofyan Hadi Musa selaku ketua LKK-UNPAM dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kerjasama antar pihak. “Acara ini bisa berjalan dengan baik karena saling kerjasama dan kolaborasi antara LKK dan DPW ADPISI. Kegiatan ini sangat penting untuk karir dosen ke depan. Saking ikhlasnya dosen agama mengajar, sampai lupa unutk menulis jurnal. Mudah-mudahan dengan acaranya ini, dosen jadi semakin semangat menulis karena telah menghadirkan narasumber yang berkompeten yang akan memberikan jurus dan jampi-jampinya agar jurnal bisa tembus ke Sinta dan Scopus,” tutur Sofyan yang juga Qori international.

Begitu juga sambutan yang diberikan oleh Taufik Hidayatullah selaku ketua DPW ADPISI. “Acara ini diikuti oleh dosen dari berbagai wilayah. Dengan adanya kegiatan ini akan meningkatkan kualitas jurnal publikasi ilmiah. Kegiatan coaching clinic writing islamic journal akan memberi manfaat seperti pemahaman kaidah penulisan ilmiah dan kaidah-kaidah yang berlaku dalam penulisan jurnal,” ujarnya.

“Dua narasumber yang hadir pada kegiatan ini sudah mempunyai pengalaman menulis jurnal bereputasi. Kegiatan ini akan membuka wawasan kita terkai seluk-beluk karya ilmiah. Kegiatan ini akan terus kita apresiasi agar terus bisa berinteraksi dalam dunia kepenulisan,” terang Taufik.

Chairul Mahfud dalam materinya menyampaikan hal ihwal dalam menulis. “Dengan menulis, maka anda bisa lebih bermanfaat. Menulis itu butuh niat. Jika ditolak jurnalnya, terus bangkit dan positif thingking aja. Munculkan rasa penasaran agar kita terus mencoba dan mencoba. Jika rasa penasaran itu terus ada, maka menulis akan lebih semangat dan lancar,” ungkap Chairul penuh semangat.

Choirul Menambahkan, menulis jurnal jangan sendiri tapi kolaborasi. “Menulis itu jangan sendiri, lakukan kolaborasi dan gotong royong. Dulu saya pernah menulis jurnal, lumayan agak lama. Jika kolaborasi akan terlihat secara kualitas dan kuantitas. Sinergi dan kolaborasi harus menjadi pertimbangan dalam menulis jurnal,” tambah Choirul yang menamatkan S1, S2, S3 di IAIN Sunan Ampel.

Baca Juga  '57 Bergema' Bukti Kepedulian Alumni SMAN 57 pada Lingkungan Sekitarnya

Choirul juga mengatakan, bahwa proses publikasi itu ada dua. “Proses publikasi secara umum di dunia itu dimulai dari penelitian kemudian jurnal. Penelitian yang kita lakukan luarannya bisa nasional atau international. Ada juga menulis jurnal dulu dan pakai uang sendiri, kemudian melakukan penelitian.  Dalam menulis jurnal harus menyesuaikan jurnal yang aka kita tuju. Keduanya bisa kita lakukan. Lebih dominan yang mana? jika dpt proyek bisa cara pertama. Jika tidak ada proyek cara kedua bisa kita lakukan. Bebas memilih untuk memulai,” ungkap penulis artikel jurnal terindeks Scopus ini.

“Menemukan jurnal islamic studies sudah sangat mudah. Info bisa kita dapatkan dari SINTA atau Google Scholar. Tidak ada kata pesimis. Saran saya agar bisa kolaborasi dan mempelajari jurnal nasional dan international. Cara mudah kirim jurnal hasil riset ketika mengikuti seminar international. Panitia biasanya sudah ada MoU dengan publisher Scopus. Cara kedua bisa kirim langsung ke jurnal terindeks Scopus atau bereputasi,” lanjut Choirul.

Narasumber kedua, Ahmad Hakam menyampaikan aspek artikel dan pertimbangannya. “Info terkait teknis dan pertimbangan harus diketahui bersama. Jurnal harus enak dibaca dan enak dilihat. Enak dilihat karena sesuai template dari jurnal tersebur. Ini sangat membantu editor, sebab jika tidak enak dilihat atau tidak sesuai template akan menyita waktu editor. Jurnal enak dibaca jika tata bahasa dan penyajian sesuai. Semua sudah terintegrasi dari abstrak sampai kesimpulan,” ungkapnya.

Ahmad Hakam melanjutkan, ada delapan penulisan artikel jurnal. “Pertama, terkait tema yang sesuai minat dan satu rumpun. Kedua, sesuaikan tema artikel, atau memilih journal yang scopenya sesuai tulisan artikel. Ketiga, mengikuti template. Keempat, membuat abstrak, metode dan hasil. Kelima, pernyataan argumen (thesis statement). Keenam, literature review. Ketujuh, menjelaskan metodologi singkat padar. Kedelapan, kesimpulan, referensi dan proofreading. Kita simpulkan jadi IMRAD. Introduction, methods, results and discussion,” tutupnya.***

Kontributor : Deni Darmawan

Tags:

Related Posts

Leave a Reply