Manusia Mendamba Tuhan Ditengah Mewabahnya Virus Corona (COVID-19)

Manusia Mendamba Tuhan Ditengah Mewabahnya Virus Corona (COVID-19)

Oleh: Jaenudin*

 

Terlepas dari mana corona virus berasal munculnya dan terlepas pula dari ada atau tidaknya prediksi, sampai kapan corona virus mewabah di Indonesia, hingga sekarang berbagai elemen terkait berusaha mengatasinya. Hal ini dilakukan karena faktanya adalah data per 27 Mei 2020 pukul 12.00 WIB, terdapat penambahan kasus positif sebanyak 686 orang. Dengan demikian, total keseluruhan kasus positif sebanyak 23.851. Kasus sembuh bertambah 151 orang. Sehingga total menjadi 6.057 orang. Sementara kasus meninggal juga meningkat sebanyak 55 orang. Dengan demikian total keseluruhan menjadi 1.473 kasus. Hal ini memberikan pemahaman, betapa virus tersebut membuat begitu banyak orang yang tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di berbagai belahan dunia.

 Tulisan ini bertujuan sekedar elaborasi dari rintihan penulis terkait dengan kesadaran prophetic atas begitu tingginya kekhawatiran  manusia terhadap mewabahnya corona virus (covid 19) sebagai salah seorang umat beragama yang mendamba pertolongan dari Yang Diyakini sebagai Maha Penyayang kepada segenap makhluk-Nya.

Bertitik tolak dari sinyalemen dalam [QS 30:30] “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” Untuk memahami ayat ini, penulis kemukakan keterangan dari Al-‘Alamah asy-Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi (Banten) dalam Tafsir Al-Munîr Marāh Labîd,  Jilid 5, hal. 36, bahwa: “Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah, yakni hadapkanlah seluruh dirimu kepada agama tanpa menoleh ke kanan dan kiri dengan lurus, yakni berpaling dari segala yang selain Agama Allah itu. Agama yang sesuai dengan fitrah penciptaannya yang tetap tidak mengalami perubahan. Bahwa manusia sejak dari alam ruh, rahim, syahadah, barzakh dan hingga alam Akhirah, adalah bertuhan.

Sebagaimana lazimnya suatu agama, Islam sudah dipastikan memiliki ajaran tentang ke-Tuhan-an, kitab suci dan kepercayaan hari berbangkit menuju Akhirat, yang merupakan syarat umum tentang komponen-komponen yang dilingkup dalam suatu agama. Tentang fase-fase  kehidupan manusia, terutama dalam fase kehidupan didunia (alam syahadah) dihadapkan ke berbagai masalah memenuhi kebutuhan hidup baik secara kebutuhan jasmaniah juga menyangkut kebutuhan ruhaniah. Untuk memenuhi dua kebutuhan ini, manusia berproses sesuai keadaannya masing-masing dengan tingkat keberhasilan yang variatif pula. Sebagai indikatornya adalah cara dan kualitas hidup yang secara kasat mata dalam berbagai dimensinya, tidak sama.

Ketika konteks sekarang, kebutuhan akan terhindar atau keinginan berada dalam perlindungan secara umum (umat beragama), adalah sama. Kesamaan adanya harapan untuk mendapat keterpeliharaan serta perlindungan, terutama bagi umat Islam adalah dari Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Dalam suasan kerja keras mengatasi ancaman virus itu, tentang kepercayaan untuk berharap mendapat pertolongan terhadap Tuhan Pemelihara menjadi fokus perhatian bagi yang beragama. Walaupun boleh jadi jauh sebelum mewabahnya virus corona (covid 19), sekian banyak pihak sisnisme terhadap agama.

Bahkan, dalam dinamika sejarah manusia, wajah muram agama telah mewarnai kehidupan manusia. Tentu saja realitas demikian dipandangnya sebagai sebuah ironi. Agama di satu sisi mengklaim dirinya menjadi juru penyelamat manusia, akan tetapi di sisi lain tidak ada satu agama pun yang tidak terlibat dalam tirani dan penindasan kebenaran. Gambaran demikian sebagaimana diungkapkan oleh A.N. Wilson yang dikutip Nurcholish Madjid dalam sebuah jurnal berjudul: Beberapa Renungan Tentang Kehidupan Keagamaan Untuk Generasi Mendatang, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No.1. Vol. IV, 1993, hlm. 5, bahwa: “Agama adalah tragedi umat manusia. Ia mengajak kepada yang paling luhur, paling murni, paling tinggi dalam jiwa manusia. Namun hampir tidak ada satu agama pun yang tidak ikut bertanggung jawab atas berbagai peperangan, tirani, dan penindasan kebenaran…Agama mendorong orang untuk menganiaya sesamanya, untuk mengagungkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan dan pendapat orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri pemilikan kebenaran”. Tentu saja kutipan Nurcholis Madjid itu merupakan refleksi peringatan bagi generasi mendatang sebagai bantahan, karena agama justeru berfungsi menyejahterakan manusia, yang menyejarah dalam perjuangan para nabi dan rasul-Nya serta penerusnya.

Kemudian, pemikiran kritis tentang agama, sebagaimana dikemukakan oleh Thomas F.O’Dea dalam buku Sosiologi Agama, [1985:31] dengan teori fungsionalnya: menyediakan suatu jalan masuk yang bermanfaat untuk memahami agama sebagai fenomena sosial yang universal. Agama memberi kebudayaan sebagai tepat berpijak yang berada di luar pembuktian empiris atau tidak terbukti, atas dasar mana makna yang tertinggi yang dipostulatkan. Makna yang tinggi ini memberikan tolakan dasar bagi tujuan dan aspirasi manusia yang karena itu membangkitkan sikap kagum yang memungkinkan kesesuaian yang sinambung dan efektif dengan nilai dan tujuan kebudayaan itu sndiri. Agama memberikan sumbangan pada sistem sosial dalam arti pada titik kritis pada saat manusia menghadapi ketidakpastian dan ketidakberdayaan, agama menawarkan jawaban terhadap masalah makna. Agama menyediakan sarana untuk menyesuaikan diri dengan frustasi karena kecewa, apakah itu berasal dari kondisi manusia ataupun dari susunan kelembagaan masyarakat. Fungsi agama bagi kepribadian manusia ialah menyediakan dasar pokok yang menjamin usaha dan kehidupan yang menyeluruh, dan menawarkan jalan keluar bagi pengungkapan  kebutuhan dan rasa haru serta penawar bagi emosi manusia. Pada saat yang sama, agama memberikan dukungan disiplin manusia melalui pemuasan norma dan nilai-nilai masyarakat, yang oleh karenanya memainkan peran mensosialisir individu dan dalam mempertahankan stabilitas sosial.

Baca Juga  Reklamasi : Pembangunan Ala Kapitalis Yang Tak Berkeadilan

Pernyataan yang dikemukakan di atas, merupakan realitas dalam kehidupan manusia, yang boleh jadi suatu saat mengalami tiga keadaan manusia yang membuat dirinya dalam nuansa kegalauan yang bisa membuat manusia berada dalam suatu titik kritis. Ketiga keadaan itu biasa dihadapi siapapun betapapun dia yang boleh jadi secara realitas pragmatis berada dalam: ketidakberdayaan, kelangkaan, dan ketidakpastian dalam hidup. Dalam kondisi seperti itu sering membawa kepada terganggunya stabilitas kejiwaan dan lembaga kemasyarakatan.

Secara alami, manusia menurut kenyataannya sudah mempunyai berbagai “fasilitas” sebagai anugerah Penciptanya. Secara potensial kelengkapan untuk hidup merupakan bawaan sejak lahir. Kemudian dari potensial menjadi aktual prosesnya dimulai dari kecil (usia balita), kanak-kanak, remaja, dewasa, tua atau hingga manula (manusia usia lanjut). Dengan demikian adanya semangat untuk “bisa” melakukan sesuatu ditunjukkan (fungsi-efektifnya) alat gerak untuk hidup berproses secara berangsur. Misalnya berfungsinya sepasang mata, telinga, kedua tangan dan kedua kaki yang  menunjukkan gejala hidup.

Hidup, menurut M.Quraish Shihab ditandai adanya gerak, rasa dan tahu. Begitu kata filosuf, kendatipun keterangan ini tidak menjelaskan hakikat hidup. Tentunya dengan kemampuan gerak, manusia bisa melakukan segala hal sesuai kebutuhan, keinginan dan kepatutan. Dengan adanya rasa, manusia bisa membangun empati, cita rasa masakan, rasa malu berbuat tidak beradab, terutama malu tertinggi kepada Penciptanya jika berbuat dosa dan nista. Adanya tahu dan pengetahuan pada manusia, bisa mengubah tatanan kehidupan yang serba terbatas menjadi semakin unik dan kompleks, sehingga bisa melakukan learning how to know, learning how to do, learning how to be dan learning how ti life together. Jadi, dengan tiga indikator hidup itu, membuat sikap dan tindakan manusia bervariatif, diacu spirit kolaboratif yang komplementer secara individual dan sosial membuat suasana mempesona. Itu adalah gerakan ritmis penuh nuansa normatika etis. Walaupun bisa juga hidup menjadi tidak bermakna jika kering dari rasa syukur, salah arah melangkah dan diliputi kebodohan atau kejahiliyahan.

Ketika seseorang beriman menengok cara hidup dan kehidupan dibina dengan spirit doa, maka dapat merasa dan mencapai bahagia serta sejahtera karena membalut diri dengan rasa syukur. Menurut Firman Suci dalam kitab suci Al-Qur’an surat an-Nahl [QS16: 78] Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. Dengan ayat ini, menurut mufasir (M. Quraish Shihab) bahwa manusia dinamis dalam kehidupannya didukung dua jenis kemampuan yaitu proses gerak sebagai usaha untuk “menjadi” dengan aneka potensi yang Tuhan berikan merupakan potensi alami (pengetaahuan melalui usaha). Begitu pula modal dasar yang sudah dilekatkan yaitu pengetahuan bersifat fitrah, yaitu yang menjadikannya “mengetahui” bahwa Allah Maha Esa. Bersamaan itu pula diiringi mengetahui pula – walau sekelumit—tentang wujud dirinya dan apa sedang dialaminya. Bukankah sudah dikemukakan tadi bahwa hidup manusia ditandai oleh gerak, rasa dan tahu, minimal mengetahui wujud dirinya. Dari sini, adalah sangat mungkin jika hidup manusia sangat dinamis disbanding hewan lainnya.

Melalui gerak dinamis ini tentu ada pemandunya internal yaitu akal dan hati sebagai respon terhadap stimulan (rangsangan) eksternal yaitu lingkungannya. Melalui energi yang dipandu oleh akal dan hati, manusia bisa mencapai puncak kehidupannya yang biasa dapat diistilahkan berprestasi. Dari sini nampak secara fenomenologi prestasi yang dicapai adalah bisa berupa ilmu pengetahuan atau akademisi hingga jenjang tertinggi. Begitupula aneka jabatan srta prestasi harta atau materi. Pada posisi demikian, secara pragmatis menggambarkan posisi kuat, yang dengan kekuatan itulah, manusia bisa mengatasi masalah yang dihadapinya. Meski demikian, ternyata ada keterbatasan-keterbatasan yang antara manusia yang satu dengan lainnya tidak sama. Konsekuensi logisnya keadaan cara hidup dan kehidupannya melahirkan ketidaksamaan.  Tetapi ketika menghadapi hal-hal tertentu, manusia bisa bekerja sama (kompak) bisa pula bertindak sendiri-sendiri. Hal ini tergantung kepada perkembangan “kehidupan” wawasan pada dirinya. Seperti halnya, sikap manusia yang kini dihadapkan kepada “ancaman” pandemic “coronavirus” atau covid 19  yang menyerang siapapun dan betapapun atas izin Penciptanya.

Kini, sekian banyak manusia menghadapi ancaman corona virus diliputi kehawatiran bahkan ketakutan. Kondisi riil seperti ini membuat timbulnya rasa ketidak berdayaan, keterbatasan karena kelangkaan, dan menerawang masa depan dengan rasa ketidakpastian. Pada tataran seperti ini, dipastikan manusia berada dalam kondisi yang kritis. Konsekuensi logisnya mencari apa yang bisa membuat dirinya merasa aman, tenteram dan mengharapkan sejahtera. Tanpa disadari jeritan hati, lelehan air mata dan suara rintihan sayup-sayup yang tersengal-sengal mengiringi do’a mendamba “Uluran Tangan” dari yang dipercayainya, yaitu Tuhan. Itulah realitas ketidak berdayaan, kelangkaan dan ketidakpastian dalam hidup yang memerlukan semangat untuk bertahan ditopang dengan kepasrahan total hanya kepada Yang Maha Didamba, yang hanya karena pertolongan-Nya sajalah semua makhluk itu; kita sebagai manusia yang bertakwa mendapat kekuatan, keberdayaan dan kepastian masa depannya.***

 

*Penulis Adalah Dosen Prodi Manajemen Universitas Pamulang

Tags:

Related Posts

Leave a Reply