Program Merdeka Belajar Dalam Masa Darurat COVID-19

Opini 0

PROGRAM MERDEKA BELAJAR DALAM MASA DARURAT COVID-19

Oleh: Dr. Sugiyanto, SE, MM, CMA, CFRM

 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, dalam telekonferensi Peluncuran Program Belajar dari Rumah menyampaikan bahwa “Program Belajar dari Rumah merupakan bentuk upaya Kemendikbud membantu terselenggaranya pendidikan bagi semua peserta didik di masa darurat Covid-19, khususnya membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet, baik karena tantangan ekonomi maupun letak geografis.”

Program belajar dari rumah di TVRI, merupakan respons cepat Kemendikbud terhadap masukan Komisi X DPR RI pada Rapat Kerja tanggal 27 Maret 2020 yang lalu. Hal ini, dikatakan Mendikbud sejalan dengan semangat Merdeka Belajar. “Program Belajar dari Rumah mulai tayang di TVRI diluncurkan perdanya pada Senin tanggal 13 April 2020. Program ini direncanakan dapat terselenggara selama 3 bulan ke depan. Mendikbud menyatakan  program pembelajaran untuk semua jenjang, Belajar dari Rumah juga akan menyajikan program bimbingan Orang tua dan Guru serta tayangan kebudayaan.

Masa pandemi COVID 19 memberikan warna baru dalam dunia pendidikan di Indonesia dimana sekolah-sekolah dan kampus di rumahkan dan membuat para siswa dan mahasiswa memulai sistem pembelajaran daring dengan menggunakan E-learning, Zoom dan lainnya. Beberapa program pun muncul dari kementrian pendidikan dan kebudayaan republik Indonesia.  Kemendibud bekerjasama dengan salah satu stasiun TV milik pemerintah. Seperti yang di jelaskan pada situs resminya https://www.kemdikbud.go.id/. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan Program “Belajar dari Rumah” di TVRI.

Materi pembelajaran yang disajikan fokus pada peningkatan literasi, numerasi, serta penumbuhan karakter peserta didik. Kemendikbud juga berencana melakukan monitoring dan evaluasi bekerjasama dengan lembaga nonpemerintah. Tujuan  utama Mendikbud yaitu pemberian pendidikan yang bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar (KBM) di lockdown dalam rangka penanganan Covid-19 di Indonesia. Oleh karena itu Kemendikbud terbuka untuk bekerjasama dan berkolaborasi mendukung penyelenggaraan pendidikan di masa darurat ini.

Berlangsungnya program merdeka belajar berdampak  memunculkan kebingungan  yang  begitu beragam diantara peserta didik dan mahasiswa. Sistem pembelajaran daring seperti apa yang dimaksud? Sebab masih banyak sistem pengajaran yang diberikan oleh dosen maupun guru hanya dengan memberikan tugas yang banyak tanpa ada penyelesaian yang kurang jelas.

Baca Juga  New Normal : Belajar-Mengajar Di Tengah COVID-19

Pemberlakuan social distancing dalam upaya memumutus penyebaran virus Corona (Covid-19), sejumlah sekolah, kampus  meniadakan aktivitas belajar mengajar. Dengan begitu, pihak membuat kebijakan belajar dari rumah dengan memanfaatkan teknologi, dari e-learning, meetingroom hingga zoom. Namun dalam prakteknya, banyak keluhan yang dialami baik peserta didik  maupun orang tua siswa. Seorang peserta didik  mengeluh karena tensi darahnya naik karena mendapatkan banyak tugas dan dikerjakan menggunakan telefon genggam. Siswa itu merasa mendapatkan tugas online yang lebih berat bobotnya ketimbang tugas di sekolah.

Selain siswa, orangtua pun ada yang mengadu akibat banyaknya tugas yang diberikan guru kepada anaknya, sang anak yang masih duduk di bangku kelas  Sekolah Dasar (SD), namun setiap harinya sang anak harus mengerjakan 40 sampai 50 soal. Seorang siswa kelas VII SMP juga melaporkan hal yang sama. Ia harus mengerjakan soal mulai pukul 07.00 sampai 17.00 WIB. Kalau dihitung, siswa SMP tersebut harus mengerjakan 255 soal dalam satu hari. Akan tetapi hal ini ada dampak positif dan negatifnya, karena peserta didik lockdown belajar merdeka jangan menggap libur akan tetapi belajar melalui daring, dengan harapan peserta didik dapat mahir dalam teknologi, jika dari segi negatifnya peserta didik kurang berkreatifitas.

Program merdeka dalam belajar harusnya memerhatikan beberapa hal yang harus diperhatikan seperti: Dengan menggunakan sistem daring, siswa tetap belajar dan mengasah kemampuan akademik maupun non akademik. Didukung kerja kreatif para guru, siswa tetap memperoleh pendidikan yang tepat meski dalam keterbatasan ruang. Kreativitas guru dalam menyajikan kegiatan belajar terus mendukung perkembangan dan menstimulus kecerdasan siswa. Seperti memberikan tugas sesuai dengan tema belajar yang sedianya sudah dirancang.seperti siswa belajar mengenali lingkungan sekitar, yaitu air dan udara. Jika biasanya siswa akan langsung melaksanakan praktik, kali ini sedikit berbeda. Dengan media video atau foto atau gambar yang dibuat oleh tenaga pendidik akan membuat gambaran atau contoh-contoh. Kemudian peserta didik mengikuti atau memberikan modifikasi untuk berkarya sesuai tema program merdeka belajar. Selamat belajar. ***

 

*Penulis adalah Dosen Universitas Pamulang

Tags:

Related Posts

Leave a Reply